Keistimewaan Yogyakarta dari konsep tata ruang kota

Keistimewaan Yogyakarta dapat dilihat juga dari dimensi tata ruang kota yang sejak awal terbentuknya sudah mencerminkan catur gatra tunggal (kraton, masjid, alun-alun, pasar). Konsep ini memiliki nilai filosofis yang tinggi terkait dengan perkembangan kota ke depan yang memperhitungkan segala aspek yaitu fisik, ekonomi, sosial, agama, dan infrastuktur. Kekuatan catur gatra tunggal didukung pula oleh konsep pertahanan suatu kota dari pengaruh luar. Konsep ini diwujudkan dengan pertahanan fisik (beteng dan jagang) dan pertahanan non fisik (masjid pathok negara) sebagai pertahanan yang melibatkan peran aktif masyarakat. Konsep tata ruang kota Yogyakarta berawal pada Sumbu Filosofi sebagaimana telah dijelaskan di depan. Dengan sumbu filosofi tersebut, kawasan Jeron Beteng menjadi pusat pengembangan kota Yogyakarta. Jeron Beteng merupakan inti kehidupan masyarakat karena daerah ini pada mulanya hanya dihuni oleh Sultan beserta sentana/keluarganya dan para Abdi Dalem nya. Seperti Kampung Gamelan yang dihuni abdi dalem Gamel (petugas pemelihara kuda kerajaan), atau kampung Siliran yang dahulunya dihuni para abdi dalem Silir (para petugas lampu kerajaan).
Sedang di luar beteng dalam formasi tapal kuda terdapat perkampungan Angkatan Perang Kerajaan yang terdiri atas 8 (delapan) kompi tentara Raja, 1 (satu) kompi tentara Kepatihan, 1 (satu) kompi milik Putera Adipati Anom dan 1 (satu) kompi milik Komandan Batalyon.
Para tentara tersebut menghuni kampung Wirobrajan (prajurit Wirabraja), Daengan (prajurit Daeng), Patangpuluhan (prajurit Patangpuluh), Jagakaryan (prajurit Jagakarya), Prawirotaman (prajurit Prawiratama), Nyutran (prajurit Nyutra), Ketanggungan (prajurit Ketanggung), Mantrijeron (prajurit Mantrijero), Bugisan (kompi Kepatihan), Surakarsan (kompi Adipati Anom) dan kampung Jlagran (kompi Komandan Batalyon).
Sementara itu para Nayaka (menteri) yang berjumlah 8 (delapan) memperoleh tempat tinggal mandiri yang berada di kampung-kampung dalam posisi melingkari kerajaan, overlap dengan kampung prajurit. Kampung-kampung tersebut adalah kampung Keparakan Kiwa (Menteri Kepamongprajaan), Keparakan Tengen (Menteri Kepamongprajaan), Gedong Kiwa (Menteri Keuangan), Bumijo (Menteri Agraria), Siti Sewu (Menteri Agraria), Numbakanyar (Menteri Keprajuritan), Penumping (Menteri Keprajuritan). Selain itu juga terdapat Nayaka Wreda (Perdana Menteri) yang bertempat tinggal di Kepatihan.
Sementara itu terdapat Masjid Pathok Negara yang tersebar di empat penjuru pinggiran kota Yogyakarta, yang berfungsi sebagai benteng pertahanan secara social masyarakat. Hal ini dimungkinkan karena kawasan Masjid-masjid Pathok Negara tersebut berfungsi sebagai kawasan keagamaan sekaligus kawasan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Para ulama yang berada di masjid pathok Negara tersebut adalah para ahli di bidang agama dan perekonomian. Dengan demikian segala pengaruh sosial yang buruk dari luar dapat ditangkal oleh kawasan-kawasan tersebut, selaku garda depan terhadap anasir-anasir asing.
Sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan kota yang ada, muncul komunitas-komunitas hunian kelompok masyarakat tertentu sesuai dengan peran penghuninya dalam kehidupan keseharian kota Yogyakarta. Pada awalnya muncul kumpulan hunian warga Belanda di kawasan Lodji Ketjil, kemudian bertambah lagi di kawasan Bintaran serta kawasan Jetis. Pada akhirnya kawasan hunian warga Belanda mencapai puncaknya sebagai kawasan hunian yang cukup representatif adalah di kawasan Kota Baru. Sedangkan kawasan hunian kaum etnis China pada awalnya berkembang di seputaran kawasan Malioboro dan Gondomanan. Kemudian etnis China secara dominan membentuk komunitas hunian mereka di kawasan Ketandan hingga saat ini.
Perkembangan kota Yogyakarta pasca Kemerdekaan Republik Indonesia mulai dipengaruhi oleh kedatangan para pelajar di kota Yogyakarta. Keberadaan Kampus Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia, sedikit banyak membawa dampak bagi tata kota Yogyakarta yang terus tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Demikian juga maraknya kampus-kampus perguruan tinggi hadir di kawasan Yogyakarta ini tentu membawa pengaruh terhadap tata kota Yogyakarta saat ini maupun di masa-masa yang akan datang.
Sementara itu Pura Pakualaman meski berada di dalam ibukota Ngayogyakarta Hadiningrat, namun karena letaknya yang berada di seberang timur Sungai Code justru tidak mengaburkan peran Jeron Beteng sebagai inti kehidupan lama masyarakat Yogyakarta. Pura Pakualaman justru mengisi kehidupan di luar sentrum yang terbuka dan dapat ditembus oleh pengaruh-pengaruh buruk dari luar.
Semua ini menggambarkan bahwa pada masa lalu Yogyakarta adalah sebuah negeri (negara) sehingga memiliki seluruh komponen dan atribut-atribut negara. Seluruh atribut tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan seyogyanya benda, bangunan, struktur, situs yang terkait dengan keberadaan/eksistensi Yogyakarta tersebut, tetap dikelola dan dilestarikan dengan mengembalikan pada konsep tata ruang kota sehingga identitas keistimewaan tidak semakin luntur. Pemerintah Provinsi DIY telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) No. 11 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya dan Benda Cagar Budaya, yang merupakan penjabaran dari UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Perda tersebut dimaksudkan untuk mengatur upaya pelestarian cagar budaya dan nilai-nilai pentingnya. Dalam perkembangan UU yang menjadi dasar pembentukan Perda tersebut telah dicabut oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Cakupan dan substansi UU baru ini sangat luas tidak hanya terkait dengan pelestarian benda cagar budaya tetapi mencakup pelestraian dan pengelolaan benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan. Dengan berlakunya UU yang cakupan dan substansinya lebih luas ini menuntut perlunya meninjau kembali Perda No. 11 Tahun 2005 sebagai bentuk perhatian serius pemerintah daerah terhadap komitmen pelestarian dalam rangka menjaga nilai keistimewaan Yogyakarta.

Dari Berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: