Keistimewaan Cagar Budaya Yogyakarta Sebagai Simbol Sarat Makna

Setting lokasi Yogyakarta yang tertuang dalam tata ruang kota ditata sangat istimewa dengan konsep yang sangat tinggi dan sarat makna yang tervisualisasikan dalam wujud cagar budaya yang meliputi Gunung Merapi-Kraton-Laut Selatan (Samudra Indonesia).
Cagar budaya ini menggambarkan poros imajiner yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana dan Tri Angga (Parahyangan-Pawongan-Palemahan atau Hulu – Tengah – Hilir serta nilai Utama – Madya – Nistha ).
Secara simbolis filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah) , manusia dengan manusia (Hablun min Annas), manusia dengan alam yang termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Ngayogyakarta, dan air (tirta) dari laut Selatan, angin (maruta) dan akasa (either). Demikian pula jika dilihat dari konsep Tri Hita Karana, ada tiga unsur yang menjadikan kehidupan (phisik, tenaga, dan jiwa) telah tercakup di dalam filosofis sumbu imaginer tersebut. Konsep kosmogoni yang Hinduistis ini oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I diubah menjadi Konsep Islam-Jawa Manunggaling Kawula Gusti (Jagad Gedhe dan Jagad Cilik). Tugu Golong Gilig/Pal Putih-Kraton-Panggung Krapyak merupakan konsep sumbu filosofi Kraton Yogyakarta. Tugu Golong Gilig dan Panggung Krapyak merupakan simbol Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan. Konsep yang Hinduistis ini oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I diubah menjadi konsep Jawa Sangkan Paraning Dumadi. Tugu golong gilig bagian atasnya berbentuk bulatan (golong) dan bagian bawahnya berbentuk silindris (gilig) dan berwarna putih sehingga disebut juga Pal Putih. Tugu Golong Gilig ini melambangkan keberadaan Sultan dalam melaksanakan proses kehidupannya yang dilandasi dengan ketulusan dalam menyembah kepada Tuhan Yang maha Esa, disertai satu tekad menuju kesejahteraan rakyat (golong – gilig) dan didasari hati yang suci (warna putih). Itulah sebabnya Tugu Golong-Gilig ini juga sebagai titik pandang utama Sultan pada saat melaksanakan meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Lor.

IMG_3084

Gunung Merapi sebagai salah satu titik Poros Imajener yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana dan Tri Angga (Prahyangan-Palemahan dan Pawongan) atau Hulu-Tengah-Hilir dan juga Nila Utama-Madya-Nistha

Nilai filosofis yang dapat ditarik dari Panggung Krapyak ke utara merupakan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu, beranjak dewasa, menikah sampai melahirkan anak . Visualisasi dari filosofi ini diujudkan dengan keberadaan kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak yang melambangkan benih manusia, Pohon Asem (Tamarindus indica) dengan daun muda bernama Sinom yang melambangkan gadis yang masih anom (muda) dan nengsemaken (menarik hati) sehingga selalu disanjung yang divisualisasikan dengan pohon tanjung (Mimusops elengi). Di Alun – Alun selatan menggambarkan manusia telah dewasa dan sudah wani (berani) meminang gadis karena sudah akhil baligh, yang dilambangkan dengan Pohon Kweni (Mangifera odoranta) dan Pohon Pakel. Masa muda yang mempunyai jangkauan jauh ke depan divisualisasikan dengan dengan pagar ringin kurung alun-alun selatan yang seperti busur panah. Masa depan dan jangkauan para kaum muda dilambangkan seperti panah yang dilepas dari busurnya. Sampai di Sitihinggil Selatan pohon yang ditanam adalah Pelem Cempora (Mangifera indica) yang berbunga putih dan Pohon Soka (Ixora coccinea) yang berbunga merah yang menggambarkan bercampurnya benih laki-laki (dilambangkan warna putih) dan benih perempuan (dilambangkan warna merah). Di halaman Kamandhungan menggambarkan benih dalam kandungan dengan vegetasi Pohon Pelem (Mangifera indica) yang bermakna gelem (kemauan bersama), pohon Jambu Dersono (Eugenia malaccensis) yang bermakna kaderesan sihing sasama dan pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) yang bermakna kempel, bersatunya benih karena kemauan bersama didasari saling mengasihi. Melalui Regol Gadhung Mlathi sampailah di Kemagangan yang bermakna bayi telah lahir dan magang menjadi manusia dewasa.
Sementara itu, dari Tugu Pal Putih ke arah selatan merupakan perjalanan manusia menghadap Sang Kholiq. Golong-Gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa dan karsa dilandasi kesucian hati (warna putih) melalui Margotomo (jalan menuju keutamaan) ke selatan melalui Malioboro (memakai obor/ pedoman ilmu yang diajarkan para wali), terus ke selatan melalui Margomulyo (jalan menuju kemuliaan), kemudian melalui Pangurakan (mengusir nafsu yang negatif). Sepanjang jalan Margotomo, Malioboro dan Margomulyo ditanam pohon Asem (Tamarindus indica) yang bermakna sengsem/menarik dan pohon gayam (Inocarpus edulis) yang bermakna ayom/teduh. Di ujung jalan Pangurakan sebelah Selatan terdapat dua pohon beringin (Ficus benyamina) yang bernama Wok dan Jenggot yang melambangkan ilmu sejati yang halus, lembut dan rumit seperti halusnya rambut Wok dan Jenggot. Ilmu tersebut sebagai bekal orang akan menghadap Tuhannya. Jumlah pohon beringin di alun-alun Utara 64 (enam puluh empat) termasuk dua ringin kurung di tengah-tengah alun-alun. Jumlah tersebut sesuai dengan usia Nabi Muhammad menurut perhitungan tahun Jawa. Dua ringin kurung mempunyai nama yang berbeda. Ringin kurung sebelah timur bernama Janadaru, dan yang sebelah barat bernama Dewadaru. Kedua ringin kurung tersebut melambangkan Manunggaling Kawula – Gusti. Posisi ringin Dewodaru di sebelah barat dan Janadaru di sebelah Timur melambangkan konsep Hablum min Allah wa Hablum min Annas. Dasar alun-alun yang berpasir, jika siang panas dan jika malam dingin melambangkan di dunia ini hanya ada dua kondisi yang selalu berlawanan. Ada siang ada malam, ada susah ada gembira, ada jujur ada yang jahat dan sebagainya. Hendaknya manusia memilih jalan yang baik untuk menghadap Tuhannya di hari Kiamat nanti.
Dari ujung jalan Pangurakan sebelah Utara sampai masuk ke Kedhaton akan melalui tujuh pintu (gapura/kori) yang melambangkan tujuh tangga menuju surga (the seven step’s to heaven) atau tujuh surga bagi orang yang beriman. Tujuh pintu dimaksud adalah Gapura Gladhag, Gapura Pangurakan Njawi, Gapura Pangurakan Nglebet, Kori Sitihinggil, Kori Brojonolo, Kori Kamandhungan Lor dan Kori Danapratapa. Adapun tujuh halamannya meliputi: Pangurakan njawi, Pangurakan nglebet, Alun-alun Lor, Siti Hinggil, Kamandhungan Lor, Sri Manganti dan Plataran Kadhaton. Tujuh pintu dan tujuh halaman tersebut melambangkan juga tujuh surga bagi orang yang beriman yakni: Jannatul Firdaus, Jannatul ‘Adnin, Jannatul Khuluud, Jannatul Na’iem, Jannatul Salaam, Jannatul Jalaal dan Jannatul Ma’waa.
Warisan budaya yang melekat pada Kraton ini merupakan keniscayaan yang harus terus dilestarikan sehingga generasi ke depan tidak kehilangan jejak dan pengetahuan akan warisan yang memiliki nilai-nilai penting bagi kehidupan manusia. Pengaturan dalam Perda lama (Perda No. 11 Tahun 2005) belum secara tuntas mengatur pengelolaan dan pelestarian warisan budaya Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: