Sejarah, Filosofi dan Tata Ruang DIY

     Salah satu keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah sejarah budayanya. Tidak banyak provinsi di Indonesia yang memiliki sejarah budaya yang begitu panjang dan sekaligus menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang ikut menentukan perkembangan kehidupan manusia di tanah air ini, khususnya di Pulau Jawa. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan wilayah DIY telah dihuni oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Jejak-jejak kehidupan manusia prasejarah ditemukan di daerah Pegunungan Sewu yang berada di bagian selatan DIY. Di kawasan kars ini terdapat ratusan gua yang dulu pernah menjadi tempat bermukim manusia, mungkin sejak sekitar 15.000 tahun yang lalu. Penelitian yang telah dilakukan di daerah ini membuktikan manusia prasejarah yang hidup di gua-gua itu telah memiliki budaya yang cukup maju. Mereka mengandalkan kehidupannya dengan berburu dan mengeksploitasi tanaman. Ketika itu, mereka belum tinggal secara menetap di gua-gua tersebut, tetapi kadang berpindah sesuai dengan musim. Adakalanya, mereka hidup agak di pedalaman dengan lebih banyak berburu hewan, mengumpulkan buah-buahan dan umbi-umbian. Hewan yang banyak diburu adalah monyet (macaca fasicularis), rusa, dan mungkin banteng. Di musim yang lain, mereka akan pergi ke wilayah pantai dan lebih banyak hidup dari mengumpulkan kerang dan mungkin menombak ikan. Cangkang kerang yang dikumpulkan seringkali mereka pergunakan sebagai perhiasan atau alat dan masih mereka bawa ketika mereka kembali masuk ke pedalaman. Mereka juga telah mengenal penguburan jenazah dengan cara terlipat, ditaburi zat pewarna, dan ditindih dengan batu sebelum ditimbun dengan tanah. Hal ini membuktikan budaya yang sudah cukup maju.
Semua bukti kehidupan manusia gua tersebut begitu banyak tersebar di Kabupaten Gunung Kidul. Namun, kini gua-gua dengan bukti kehidupan prasejarah itu terancam oleh kegiatan manusia, khususnya pertambangan gamping dan fosfat. Padahal, sumberdaya budaya itu mempunyai nilai penting bagi data sejarah, arkeologi, dan ilmu lainnya.
Setelah kehidupan manusia prasejarah di gua-gua berakhir, wilayah DIY telah dihuni oleh manusia prasejarah yang lebih maju. Mereka tinggal menetap di dalam perkampungan dan mengandalkan pada kehidupan pertanian. Hasil yang diperoleh lalu dipertukarkan, sehingga masyarakat saat itu dapat memperoleh benda-benda dari luar, antara lain manik-manik dari kaca. Masyarakat pada saat itu meninggalkan bukti-bukti keberadaannya terutama berupa benda-benda megalitik yang terutama tersebar di desa-desa dalam wilayah Kecamatan Karangmojo dan Playen. Benda megalitik yang ditemukan berupa kubur peti batu, patung menhir, dan batu tegak lainnya. Ketika itu, mereka juga telah menggunakan alat-alat pertanian dari besi dan memakai gerabah sebagai wadah. Meskipun belum diketahui secara tepat sejak kapan kehidupan seperti ini dimulai, namun data arkeologi memberikan petunjuk kehidupan seperti itu telah berlangsung sejak 2.500 tahun lalu dan berkembang hingga beberapa abad Masehi. Bukti-bukti kehidupan yang menunjukkan tradisi megalitik kurang banyak mendapat perhatian. Sebagian di antara temuan itu telah rusak, bahkan terbongkar. Sebagian yang lain dijadikan jembatan atau penguat pematang. Tentu saja, sejumlah upaya telah dilakukan oleh pemerintan untuk menyelamatkan benda-benda ini dengan mengumpulkan dan melindunginya di suatu tempat. Namun, tentu upaya itu masih jauh dari cukup untuk menyelamatkan tinggalan purbakala yang amat penting ini.
Kehidupan prasejarah di kawasan pegunungan selatan Yogyakarta berangsur-angsur berakhir dengan kedatangan dan semakin menguatnya pengaruh budaya Hindu di wilayah DIY. Tidak dapat disangkal, pada masa pengaruh budaya Hindu pun, wilayah Yogyakarta menjadi pusat perkembangannya. Sejak sekitar abad ke-7, diduga telah ada komunitas-komunitas yang terpengaruh budaya Hindu di sekitar wilayah Yogyakarta. Namun, sejak menjelang pertengahan abad ke-8, wilayah Yogyakarta telah berkembang menjadi pusat Kerajaan Mataram Hindu. Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti Canggal yang ditemukan di Gunung Wukir, di sebelah selatan Muntilan. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Raja Sanjaya dan menyebut daerahnya sebagai kunjarakunjadesa atau “daerah hutan gajah.” Karena itu, beberapa ahli sejarah dan filologi menganggap daerah ini tidak lain adalah Sleman saat ini. Kata sleman secara etimologis ditafsirkan berasal dari kata sa-liman atau tempat gajah, yang tidak lain adalah terjemahan dari kunjarakunjadesa yang merupakan kosakata dalam bahasa Sanskerta. Hal ini didukung juga dengan rekonstruksi toponim wilayah di sekitar Yogyakarta utara (sekarang Kabupaten Sleman) yang ketika ditelusuri asal katanya menunjukkan adanya permukiman keluarga kerajaan. Toponim yang dimaksud, di antaranya adalah Rejadani (= tempat raja), Poton (< pattana = kota), Bantareja (= makam raja), serta Dayakan (< dayaka = keluarga raja).
Meskipun pusat kekuasaan kerajaan Hindu seringkali bergeser dari suatu tempat ke tempat lainnya, di antaranya Mataram, Poh Pitu, Mamrati, dan Watu Galuh, namun wilayah yang kini termasuk DIY selalu menjadi bagian yang penting. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan sejumlah candi dan kompleks candi yang kini masuk di wilayah DIY, antara lain Kalasan, Sari, Sambi Sari, Kedulan, Prambanan (Rara Jonggrang), Ratu Boko, Barong, dan juga Kimpulan yang baru-baru ini ditemukan. Jumlah candi yang kini ada di wilayah DIY hingga mencapai ratusan jika dimasukkan candi candi yang relatif berukuran kecil. Semua itu menunjukkan bahwa daerah ini pernah menjadi pusat peradaban tinggi Jawa. Kompleks Candi Prambanan bahkan telah diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO World Heritage Committee dan telah didaftar dengan nomor C pada tahun 1991.
Keistimewaan tinggalan-tinggalan masa pengaruh Hindu di Yogyakarta adalah konteks penemuannya yang seringkali dapat menjadi bukti hubungan dan adaptasi manusia dengan alam. Sejumlah situs dan struktur candi ditemukan berada di lapisan lahar dingin yang berasal dari Gunung Merapi. Konteks temuannya yang masih asli ini memberikan nilai lebih karena mengandung informasi yang penting bagi interaksi manusia dan alam di wilayah ini. Situs candi-candi ini dapat dijadikan sarana pendidikan tentang kegunungapian, kebumian, dan kebencanaan. Bahkan, keruntuhan candi-candi di sekitar daerah aliran Sungai Opak, yang merupakan sesar aktif, menambahkan informasi yang dapat digunakan untuk mempelajari kaitan manusia dengan kegempaan di wilayah ini.
Di DIY, tidak hanya tinggalan Hindu berupa candi yang ditemukan, tetapi juga sejumlah besar benda bergerak, di antaranya prasasti, perhiasan, perangkat upacara, dan alat-alat kehidupan sehari-hari yang terbuat dari berbagai bahan seperti batu, perunggu, emas, dan besi. Berbagai prasasti penting yang dapat menjadi sumber sejarah penting pernah ditemukan di DIY. Dari prasasti-prasasti ini dapat diperoleh informasi peristiwa sejarah yang penting tidak saja bagi penyusunan sejarah bangsa. Data tentang pendirian Candi Borobudur yang kini berada di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, didapatkan pula dari prasasti yang ditemukan di Situs Ratu Boko.
Semua cagar budaya pengaruh peradaban Hindu ini, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, harus mendapatkan perhatian serius. Apabila tidak, maka DIY sebagai salah satu pusat peradaban masa pengaruh Hindu akan kehilangan sumberdaya budaya yang ada sebagai bukti-bukti nyata peran penting daerah ini dalam perjalanan bangsa Indonesia. Selain itu, tinggalan-tinggalan itu juga akan dapat menunjukkan bukti sifat multikulturalisme masyarakat Yogyakarta yang tetap memperhatikan tinggalan-tinggalan masa lampau meskipun kini telah mempunyai keyakinan yang berbeda.
Cagar Budaya sebagai jejak sejarah di kawasan DIY, yang saat ini keberadaannya dapat dirunut secara jelas dan berkesinambungan hingga pada masa kini, barangkali hanyalah sejak masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke 16; di wilayah seputaran Kotagede – Kerta – Pleret. Sementara untuk jejak sejarah pada masa-masa sebelumnya masih banyak mata rantai sejarah yang hilang.
Berbagai tinggalan sejarah Cagar Budaya yang bernuansa Jawa-Islam, cukup banyak kita jumpai di wilayah Kotagede-Kerta-Pleret tersebut (Masa Mataram Islam I, sebelum ibukota kerajaan dipindahkan ke Kartasura). Perkembangan lebih pesat di wilayah yang sekarang kita sebut sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta -dengan data-data tinggalan sejarah Cagar Budaya yang relatif lengkap- bisa dilihat sejak masa Pangeran Mangkubumi (Masa Mataram Islam II) -yang selanjutnya bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana I – membangun Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai salah satu kelanjutan Perjanjian Giyanti 1755, di dusun Pacethokan. Wilayah itu sekarang lebih kita kenal sebagai kawasan Jeron Beteng, yang merupakan cikal bakal Kota Yogyakarta saat ini.
Tinggalan-tinggalan Cagar Budaya yang bernuansa filosofi Arsitektur Jawa, pada kelanjutannya banyak kita di kawasan Jeron Beteng dan seputaran Kotagede (sebagai “Kota Lama” nya Yogyakarta), serta di desa-desa kawasan pinggiran wilayah DIY. Seperti di kabupaten Gunungkidul, Sleman, Kulonprogo dan Bantul; sebagai wujud bentuk arsitektur yang lebih bersifat kerakyatan.
Sementara tinggalan-tinggalan Cagar Budaya di dalam Kota Yogyakarta, justru lebih didominasi oleh wujud arsitektur yang bernuansa Indisch dan China. Sedang arsitektur bernuansa Jawa hanya berupa Dalem Pangeran yang berada di luar benteng Kraton, maupun bangunan-bangunan pemerintahan Kraton seperti Kepatihan. Hal tersebut lebih disebabkan karena pertumbuhan Kota Yogyakarta pada masa lalu secara ekonomi lebih banyak didominasi oleh etnis China. Sementara di sisi sosial politik banyak didominasi orang-orang Belanda yang sedang berkuasa pada saat itu; dengan membawa gaya arsitektur Eropa yang kemudian dimodifikasi dengan adaptasi terhadap kondisi tropis, sehingga menjadi gaya arsitektur Indisch sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
Setelah masa kemerdekaan, relatif tidak banyak tinggalan-tinggalan Cagar Budaya yang memiliki gaya arsitektur baru yang dominan. Tinggalan-tinggalan tersebut secara umum masih merupakan modifikasi gaya arsitektur Indisch dengan sentuhan gaya arsitektur modern seperti art deco dsb. Atau ada juga yang merupakan modifikasi arsitektur Jawa dengan sentuhan gaya arsitektur Indisch, sebagai ekspresi kemodernan masyarakat. Tinggalan-tinggalan sejarah inilah yang menunjukkan betapa istimewanya DIY. Keistimewaan dimaksud jika dirinci dapat dilihat dalam berbagai dimensi yang satu sama lain memiliki keterkaitan erat.

Oleh : Ir. Yuwono Sri Suwito, M.M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: