Keistimewaan Yogyakarta dari Sisi Historis

     Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai runutan sejarah yang panjang tidak hanya sebatas Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX tanggal 5 September 1945 yang melahirkan Daerah Istimewa Yogyakarta, atau yang lebih awal lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat akibat adanya Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755 yang lebih dikenal dengan Palihan Negari, namun jauh sebelum masa itu di wilayah Yogyakarta telah berdiri Negara Mataram Islam dengan beberapa penguasanya yang sangat terkenal seperti Panembahan Senopati dan Sultan Agung. Semua ini dapat dilihat dari peninggalan artefak atau warisan budaya baik yang bersifat tangible maupun intangible di Kotagede, Kerta, dan Pleret. Di Kotagede masih dapat dilihat sampai saat antara lain berupa masjid, makam, sendang, beteng, rumah-rumah tradisional khas Kotagede, dan Pasar, sedangkan untuk warisan budaya yang bersifat intangible antara lain keahlian kerajinan perak, kesenian, dan toponim.
Masing-masing artefak di Kotagede tersebut mempunyai kekhasan tersendiri yang sarat dengan nilai historis, filosofis, budaya, dan ilmu pengetahuan, sehingga Kotagede pantas menyandang predikat The Ancient City of Java.
Setelah perpindahan ibukota kerajaan Mataram Islam ke Kartasura pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat II di sekitar abad 17, maka perkembangan kawasan Kotagede-Kerta-Pleret pun berangsur surut.
Kawasan Yogyakarta kembali tumbuh dan berkembang sehingga menjadi Yogyakarta yang kita lihat sekarang ini, adalah setelah diawali dengan pembangunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Pangeran Mangkubumi, sebagai salah satu kelanjutan Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755.
Pada saat-saat awal tersebut, kehidupan masyarakat terkonsentrasi di kawasan Jeron Beteng. Sultan beserta keluarga nya tinggal di dalam kawasan Cepuri Kraton. Sementara para Sentana dan Abdi Dalem menghuni kawasan Jeron Beteng namun di luar Cepuri. Sedangkan masyarakat umum sebagai warga Negara tinggal di luar Jeron Beteng.
Selain Jeron Beteng sebagai titik sentral cikal bakal Yogyakarta, terdapat Panggung Krapyak di ujung selatan kota dan Tugu Golong Gilig di ujung utara; yang merupakan penanda ujung sumbu filosofi Yogyakarta. Seiring dengan pembangunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat kerajaan dimana Sultan bertempat tinggal, juga dibangun beberapa pusat kegiatan sosial – politik dan ekonomi masyarakat sebagai cerminan kelengkapan kehidupan sebuah negeri.
Sebagai cikal bakal pusat perdagangan ada Pasar Gedhe (Pasar Beringharjo). Sedang sebagai pusat pemerintahan juga dibangun kawasan Kepatihan. Guna menunjang kehidupan beragama masyarakat dan Kraton sendiri, juga dibuat Mesjid Gedhe (Masjid Besar Kauman).
Karena pada masa awal Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat juga sudah ada pemerintahan Hindia Belanda, maka juga dibangun beberapa fasilitas bagi mereka. Bersamaan dengan pembangunan Kraton Yogyakarta dibangun juga Benteng Rustenberg sebagai benteng peristirahatan di atas tanah kraton (pada kelanjutannya berubah menjadi benteng perdamaian dengan nama Benteng Vredeburg di sekitar tahun 1830).
Mengikuti perkembangan dan pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat saat itu, maka bermunculanlah berbagai bangunan fasilitas layanan publik yang dibangun pemerintah Hindia Belanda saat itu, maupun hunian serta fasilitas lainnya bagi warga Belanda. Gedung Societet Militer yang saat ini masuk dalam kawasan Taman Budaya Yogyakarta pada awalnya dibangun sebagai pendukung keberadaan Benteng Vredeburg; sebagai gedung pertemuan dan hiburan bagi para perwira dan keluarga militer Belanda. Sementara sebagai tempat hiburan bagi orang-orang Belanda, pada tahun 1818 dibangun Geneverhuis, yang kemudian pada tahun 1822 berubah nama menjadi Societet de Vereeniging Djokjakarta; kawasan ini yang sekarang kita sebut sebagai Senisono.
Pada tahun 1824 atas prakarsa Anthony Hendriks Smissaerat -residen Belanda saat itu-, dibangunlah apa yang sekarang kita sebut sebagai Komplek Istana Kepresidenan Republik Indonesia Gedung Agung, dengan gaya arsitektur Doria yang dimodifikasi; sebagai tempat tinggal bagi Residen Belanda saat itu.
Sejak itu banyak dibangun berbagai fasilitas bagi warga Belanda seperti Gereja De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie / GBIB Marga Mulya (1857), Apotheek Juliana / Kimia Farma Malioboro (1856), Stasiun Kereta Api Lempuyangan (1872), Stasiun Kereta Api Tugu (1887), Gedung Perkumpulan Theosofi Belanda cabang Yogyakarta / Gedung DPRD DIY (1878), Kantor De Javasche Bank cabang Yogyakarta / Bank Indonesia Yogyakarta (1879), Bank van Lenin / Kantor Pegadaian Ngupasan (1901), Cottage Grand Hotel de Jogja / Hotel Garuda (1908), Kantor PTT (Pos, Telephone & Telegraph) / Kantor Pos Yogyakarta (1910), Kantor Asuransi Nederlandsch Indische Levensverzekering Lijfrente Maatschappij (NiilMij) / Bank BNI ’46 (1922), Museun Java Instituut / Museum Sonobudoyo (1935).
Sementara untuk hunian bagi warga Belanda saat itu banyak terdapat di kawasan Lodji Ketjil Kulon (jln. Sri Wedani) dan Lodji Ketjil Wetan (jln. Mayjen Suryotomo); yang terletak berdekatan dengan benteng Vredeburg. Pada masa selanjutnya mulai dibangun hunian bagi warga Belanda di kawasan Bintaran. Pada saat kawasan Bintaran sudah penuh, kemudian mereka mulai membangun hunian warga Belanda dalam kawasan Jetis di wilayah utara Yogyakarta. Ketika kantung-kantung hunian warga Belanda itu sudah mulai dirasakan cukup padat, maka pemerintah Hindia Belanda mulai menyiapkan Nieuwe Wijk seluas 390 ha sebagai kawasan hunian bagi warga Belanda dengan perencanaan yang cukup matang dan fasilitas hunian yang cukup lengkap pada tahun 1920. Kawasan tersebut adalah kawasan yang sekarang kita kenal sebagai kawasan Kota Baru.
Di kawasan Kota Baru ini selain dibangun hunian yang cukup representatif juga dibangun berbagai fasilitas pendukung hunian, seperti ruang terbuka hijau/ sarana olah raga, sekolah, tempat ibadah serta fasilitas kesehatan/rumah sakit.
Kawasan Kota Baru dibangun dengan pola memusat dan lapangan olah raga Kridosono yang kita kenal sekarang ini sebagai titik sentralnya. Semua jalan utama yang menuju ke titik sentral tersebut berpola boulevard, seperti Spoor-Laan (jln. Atmo Sukarto), Mataram Boulevard (jln. Suroto), Sport Bolulevard (jln. Yos Sudarso), Kroonsprins-Laan (jln. Faridan M Noto).
Fasilitas pendidikan antara lain terdapat Christelijk MULO /SMP N 5 (1921), AMS B /SMA N 3 (1919), Europeesche Lagere School (SD Ungaran). Untuk sarana kesehatan masyarakat antara lain terdapat Rumah Sakit Zending Petronella / RS Bethesda (1899), Militair Hospitaal / RS dr Sutarto (1931). Sedang sarana keagamaan terdapat antara lain Gereformeerde Kerk Djogja / Gereja Kristen Jawa Sawo Kembar (1923), Nieuw Wijk Katholieke Kerk / Gereja Katolik St. Antonius (1926).
Di kawasan Kota Baru juga terdapat sarana keamanan kawasan seperti Politie Post Huis (rumah jaga polisi) dan Magazijn van Oorlog (gudang amunisi militer), yang sekarang menjadi kawasan tangsi militer Pamungkas.
Sedang sebagai sarana hiburan dan rekreasi di Kota Baru terdapat Voetbal terrein (lapangan sepak bola) dan tennis terrein (lapangan tenis), di lapangan yang sekarang bernama Kridosono. Fasilitas olah raga ini juga digunakan oleh para pelajar sekolah yang ada di kawasan Kota Baru.
Gaya arsitektur bangunan Belanda pada masa-masa awal tersebut (periode awal abad 18) masih cenderung bergaya Neo Klasik (contoh : Gedung Agung). Dalam perkembangannya kemudian mulai berubah bergaya Art Nouveau (bangunan pada tahun 1900an di kawasan Malioboro dan sekitarnya). Sedang pada masa-masa akhir Hindia Belanda, mulai banyak bangunan milik pribumi Indonesia yang masih bergaya arsitektur Indisch namun sudah lebih modern, dengan gaya arsitektur Art Deco (bangunan para saudagar batik di kawasan seputaran Tirtodipuran dan jalan Parangtritis).
Demikian juga halnya di bidang yang terkait dengan ekonomi mikro/pasar, tumbuh berbagai fasilitas dan hunian bagi warga China, di sekitar Pasar Beringharjo sebagai pusat perniagaan akibat dampak dari pertumbuhan ekonomi masyarakat kota pada saat itu. Karena pusat perniagaan masyarakat ada di pasar Beringharjo, maka di seputaran kawasan tersebut banyak dihuni warga China/Tionghoa sebagai pelaku pasar. Sehingga banyak dibangun bangunan rumah-toko dengan gaya arsitektur China yang telah diadaptasi dengan arsitektur Jawa maupun Eropa/Belanda.
Bangunan rumah-toko bergaya arsitektur China sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha kaum etnis China mengelompok di kawasan-kawasan ekonomi kota Yogyakarta saat itu. Selain di sepanjang Malioboro, juga di sisi utara kawasan Ngabean (Jln. KH Ahmad Dahlan), kawasan Gondomanan (Jln. Brigjen Katamso), kawasan Lodji Ketjil Wetan (Jln. Mayjen Suryotomo), juga di kawasan kampung Ketandan. Bangunan hunian rumah-toko tersebut sebenarnya masih mengacu pada bangunan-bangunan sejenis di Tiongkok Selatan, dengan tetap mengacu pada segala perhitungan Feng Shui yang terkandung didalamnya. Hanya secara detail dan ornamen sudah terjadi adaptasi dengan gaya arsitektur Jawa maupun Belanda.
Di Yogyakarta tidak terdapat bangunan hunian bergaya arsitektur China yang cukup besar dan menonjol sebagaimana terdapat di kota-kota besar di Indonesia seperti Semarang, Surabaya, Medan maupun Jakarta. Hal ini antara lain disebabkan karena di Yogyakarta tidak terdapat kaum etnis China yang menjadi saudagar besar dan dominan terhadap perekonomian Yogyakarta. Fasilitas publik bagi kaum etnis China yang cukup menonjol di Yogyakarta hanyalah Kelenteng Gondomanan dan Kelenteng Poncowinatan. Kelenteng ini merupakan fasilitas beribadah bagi warga China di Yogyakarta.
Lahirnya Agrarische Wet (Undang Undang Agraria) 1870 turut memicu kalangan swasta Belanda saat itu untuk mengembangkan usahanya di kawasan Yogyakarta. Kalangan swasta Belanda mulai melakukan usaha di bidang perkebunan dan pabrik-pabrik pengolahannya. Antara lain pabrik gula Galur, Gesikan, Padokan (Madukismo) dan Sleman. Juga dibangun pabrik baja Purosani. Selain itu dibangun juga stasiun kereta api Lempuyangan sebagai sarana transportasi bagi hasil-hasil perkebunan yang ada.
Berbagai fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi masyarkat pun banyak dibangun di seputaran pusat kota Yogyakarta, utamanya pada masa masa akhir pemerintahan Hindia Belanda menjelang masa kemerdekaan Republik Indonesia.
Karena berbagai pusat pemerintahan, perniagaan dan sosial politik pada masa awal berkiprahnya Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat sebagian besar berada pada sumbu Kraton – Tugu Golog Gilig, maka berbagai bangunan fasilitas publik yang dibangun pada masa itu kebanyakan juga berada di kawasan tersebut. Sehingga kawasan Malioboro sering disebut sebagai Kawasan Kota Lama nya Yogyakarta, sedangkan Kotagede adalah Kawasan Kota Kuno nya Yogyakarta. Kesemuanya ini perlu untuk dilestarikan. Jika tidak lama-kelamaan keberadaan artefak dan warisan budaya tersebut akan punah akibat perkembangan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat. Upaya pelestarian inilah yang menuntut adanya tata kelola pengaturan yang baik.

Oleh : Ir. Yuwono Sri Suwito, M.M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: