Jethungan

Mungkin sudah tidak banyak anak-anak sekarang yang mengenal kata ini. Jethungan. Jethungan adalah istilah dalam bahasa jawa, yang dalam bahasa Indonesianya barangkali adalah Petak Umpet. Sebuah permainan tradisional yang selain mengasyikkan juga membangun semangat kebersamaan dan jiwa sosial dari para pelakunya.
Saat bermain ini dunia rasanya milik kita dan teman-teman. Kita mencari tempat bersembunyi dimana saja. Mulai dari kandang kambing dan itik sampai kamar tidur mewah milik tetangga yang tidak kita kenal. Masa bodoh yang penting tidak ketahuan oleh si “dhadhi” yaitu teman kita yang tugasnya mencari.
“eh, ojo ndelik neng kenee, metuu!!” (jangan sembunyi disini!, ayo keluar, keluar) kalimat ini sudah jadi santapan biasa para “atlet” jethungan yang kerjanya nyelonong sembarangan dirumah siapapun yang dirasa aman. Kalau mainnya malem, saking waspadanya terhadap si pencari tak jarang meski pas lagi ngumpet nginjak beling dan berdarah tetep aja diem sampai permaian usai. Anenya walau sakit berdarah tapi kita tak pernah kapok!. jadi ingat Masa Kecil…!!!

Pertama kali diajarkan oleh para wali pada masa awal perkembangan Islam di jawa, Jethungan mengandung filosofi yang lumayan tinggi. Sebagaimana yang ditulis Usmar Salam, dalam buku Wali Sanga terbitan Menara Kudus, Jethungan mengajarkan kepada kita bahwa jika kita sudah berpegang teguh kepada pedoman yang benar maka kita akan selamat.

Pada permainan ini, disepakati sebuah tonggak berpa tongkat atau batang kayu sebagai pusat permainannya. Seorang bertugas sebagai pemburu dan sejumlah orang lainnya sebagai buruan. Jika seorang buruan tertangkap oleh pemburu, maka dia menggantikan posisi pemburu. Tetapi jika buruan telah berpegangan pada tonggak yang disepakati, maka dia selamat dari pemburu. Jika semua buruan selamat mencapai tonggak penyelamat, maka pemburu tetap bertugas sebagai pemburu pada permainan berikutnya.

Filosofi yang diajarkan dalam permainan ini, pemburu adalah syaithan, dan buruannya adalah para manusia yang bertebaran di muka bumi ini. Jika manusia tidak berhasil menghindarkan diri dari pemburu (syaithan) maka dia akan berubah menjadi syaithan, sebagaimana diketahui bahwa Allah telah menjelaskan bahwa syaitah itu dari golongan jin dan manusia (QS An Naas : 6). Namun jika manusia berpegang teguh kepada ajaran yang benar berpegang teguh kepada agama yang benar, maka dia akan selamat dari kejaran dan godaan syaithan.

Dahulu sebelum permainan game seperti Play Station dan sejenisnya menjangkiti anak-anak kecil, hampir setiap malam jika tidak hujan, apalagi pada malam bulan purnama, maka permainan Jethungan ini menjadi permainan favorit. Selain tidak memerlukan biaya sama sekali, permainan ini tidak membatasi jumlah peserta, sehingga semua anak bisa bermain bersama. Beberapa anak yang tergolong pemberani, biasanya sampai permainan disepakati berakhir tak pernah ditemukan oleh pemburu, karena dia akan bersembunyi (bahkan tertidur) di tempat-tempat yang dianggap angker (menakutkan) misalnya di kuburan. Apalagi jika yang bertindak sebagai pemburu agak penakut, maka permainan akan berlangsung lama, dan para buruan duduk santai di tempat-tempat gelap sampai permainanan dinyatakan selesai karena telah mendekati tengah malam.

Jethungan
Jethungan

Masih adakah saat ini permainan jethungan di kalangan anak-anak kita? Jangankan di kota besar, yang tinggal di desa terpencil sekalipun sudah tidak memainkannya lagi. Anak-anak lebih suka duduk manis di depan pesawat televisi yang menayangkan sinetron yang penuh dengan adegan amoral dan kekerasan. Moga-moga masih ada pihak yang berkenan melestarikan permainan tradisional ini.

Sumber : http://agama.kompasiana.com/2010/06/20/jethungan/
Doc. Source : http://2.bp.blogspot.com/_2a55Scy_ais/RmkjZZAZCKI/AAAAAAAAAMA/Q8efpTn_t5A/s400/hide%2Band%2Bseek%2B2.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: