SUKSESI MODEL BUDAYA JAWA

 

Kresna Wanda Surak Yogya

Kresna Wanda Surak Yogya

Bukan rahasia lagi bahwa para pimpinan Negara Republik Indonesia yang Jawa pada umumnya mempunyai penasehat ‘spiritual’ atau bisa juga kata kasarnya adalah ‘dukun’. Hal ini juga yang merupakan salah satu faktor kenapa budaya Jawa masih mempunyai pengaruh yang sangat luas di dalam masyarakat Indonesia pada umumnya karena referensi penasehat ‘kejawen’ adalah tata cara budaya Jawa yang hidup dari jauh dimasa-masa yang lalu yang lestari dengan media ‘wayang  purwo/kulit’, babad, serat, primbon, legenda, maupun cerita lisan yang diceritakan secara turun menurun.
Faktor menoleh kebelakang adalah ciri ‘budaya timur’ yang bukan saja budaya Jawa/Indonesia tapi juga budaya Cina, India, dan Islam yang secara kontras berbeda dengan ‘budaya barat’ yang ber-orientasi melihat ‘kedepan’. 

Beberapa bukti penunjang hipotesis budaya timur dengan menengok kembali sejarah adalah :  

  • Bangsa Indonesia tidak pernah melupakan pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun (berawal  dari sejengkal tanah di Jayakarta/ Sunda Kelapa merambat secara perlahan dalam periode 350 tahun dengan segala perlawanan dan adu domba antara kerajaan di Indonesia).
  • Dalam membangun bangsa Indonesia dengan mencari referensi masa lalu. Pada masa pemerintahan Soekarno referensinya adalah kebesaran kerajaan Majapahit sedangkan pemerintahan Soeharto mereferensikan dirinya ke kerajaan Mataram khususnya trah Mangkunegaran/Solo
  • Pada budaya Cina apabila kita membaca cerita silat (kalau cerita silat bisa dikatagorikan sebagai satu bagian dari budaya Cina) – para tokoh pesilat selalu menemukan buku kuno yang menjadikan dia lebih jago dari tokoh silat pada jamannya yang bisa diartikan bahwa manusia/tokoh Cina dimasa lalu lebih pintar dari tokoh manusia Cina pada zamannya, benarkah ?
  • Budaya India tidak juga bisa lepas dari legenda Ramayana, Mahabharata, Bhagavatgita, dll. dari masa kekinian dalam ‘frame of reference’ nya.
  • Islam dengan sunah Nabi-nya oleh sebagian pengikutnya berusaha meniru sacara harfiah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Melalui sunah-sunahnya selama beliau hidup pada abad ke enam.
  • Kontras dengan ‘budaya timur’ adalah ‘budaya barat’ yang lebih radikal memandang kedepan dengan sangat sedikit melihat kebelakang bahkan kadang-kadang menghilangkan sama sekali ‘frame of reference’

   Teknologi sebagai tulang punggungnya mengharuskan setiap orang selalu harus ‘update’ dengan penemuan dan perkembangan baru kalau tidak mau dibilang ketinggalan zaman. Dengan adanya tekanan persaingan untuk tetap ‘survive’ dalam kehidupan individu yang keras, tidak ada waktu bagi mereka untuk menengok / melamun masa lalu kecuali berpikir keras untuk menemukan sesuatu yang baru yang punya nilai komersil agar punya jaminan kehidupan yang baik pada masa kekinian ataupun dimasa depan. Kelonggaran ikatan terhadap tradisi maupun agama, budaya barat adalah budaya yang labil yang selalu berubah sesuai dengan keadaan dari waktu ke waktu dan pencarian terhadap nilai-nilai yang tidak pernah ditemukan apabila dinilai dari sudut ‘budaya timur’ yang lekat dengan tradisi dan etika keagamaan merupakan budaya yang terlalu bebas dan liar.
  
Bukan bermaksud untuk membahas perbedaan antara ‘budaya barat’ dan ‘budaya timur’, Hal ini semata-mata sebagai suatu ‘prolog’ bahwa dalam menganalisa situasi di Indonesia sebagai bagian yang tak terpisah dari ‘budaya timur’ akan lebih akurat untuk menengok jauh kebelakang dalam kurun tradisi dan budaya Jawa dimasa lalu karena keterikatan yang sangat kuat masalah kekinian dengan tradisi budaya Jawa yang berumur sangat tua. 
Kalau kita belajar dari referensi yang ada dalam kebudayaan Jawa dengan ‘wayang purwo/kulit’, babad, serat, primbon ataupun legenda yang hidup dalam budaya Jawa, model pergantian kekuasaan bisa dibagi menjadai dua periode referensi yaitu :

 

  • Model Pergantian Kekuasaan Berdasarkan Model yang ada dalam cerita ‘Wayang Purwo/Kulit’.
  • Pergantian Kekuasaan Berdasarkan cerita Babad, Legenda, atau bisa dikatakan juga sejarah. 

Di dalam mode Pergantian Kekuasaan Berdasarkan Model yang ada dalam cerita ‘Wayang Purwo/Kulit’ paling tidak ada tiga Model Pergantian Kekuasaan :

  • Legitimasi ‘Titisan Wisnu’ (Awatara Wisnu)
  • Legitimasi ‘Wahyu Keraton’ atau ‘Wahyu Kerajaan’
  • Lengser Keprabon, Madeg Pandito.

 

Sedangkan pada Model Pergantian Kekuasan Berdasarkan cerita Babad, Serat, maupun sejarah – sekali lagi bahwa ini adalah hipotesa dari penulis sendiri – juga paling tidak ada tiga Model Pergantian Kekuasaan :

  • Kutukan ‘Empu Gandring’
  • ‘Ngenger/Suwito’
  • Bantuan Kekuatan Asing

 

Lebih jelasnya sebagai berikut :

  
1. Legitimasi Reinkarnasi Wisnu
  
Dalam agama Hindu, Wisnu adalah dewa pemelihara yang tugasnya adalah memelihara dan menjaga keseimbangan manusia dari ancaman angkaramurka atau ancaman dari kesewenang-wenangan. Menurut kepercayaan agama Hindu Wisnu berawatara (muncul ke dunia) selama 10 kali, sedang dalam pewayangan Purwo/Kulit  diceritakan bahwa titisan (reinkarnasi) Wisnu yang akan memegang kekuasan setelah mengalahkan raja yang Angkaramurka. Wisnu akan menitis kepada raja yang menegakkan kebajikan.

Dalam wayang purwo periode Ramayana, Wisnu secara berurutan berinkarnasi pada Arjunasasrabahu, kemudian Ramabargawa/ Ramaparasu/ Parasurama, dan kemudian Ramawijaya. Setiap kali Wisnu akan menitis kepada pada periode berikutnya terjadi peperangan diantaranya, artinya bahwa Ramabargawa membunuh Arjuna Sasra Bahu dan Wisnu menitis padanya kemudian Ramawijaya membunuh Ramabargawa dan Wisnu memitis padanya. Kesimpulannya bahwa Model Pergantian Kekuasaan ‘legitimasi titisan Wisnu’ tidak lain adalah Model yang paling tua dalam kepecayaan animisme dinamisme

Guna merebut kekuasan seseorang secara harfiah harus memenangkan peperangan yang berarti membunuh musuhnya yang diharapkan secara spiritual jiwa musuhnya akan masuk dalam tubuhnya yang menimbulkan kekuatan magis yang lebih agar bisa dipercaya untuk memimpin.

Kenapa dewa Wisnu yang dipilih sebagai simbol, dikarenakan ciri atau sifat kepemimpinan dari dewa Wisnu merupakan ciri ideal untuk seseorang pemimpin yang bijaksana berkewajiban memelihara dan melindungi rakyatnya.
  

Dalam sejarah kerajaan-kerajan Hindu Jawa setdaknya ada dua raja yang menganggap dirinya titisan Wisnu, yaitu : Raja Erlangga dari kerajaan Jenggala pada abad X dan Ken Arok dari kerajaan Singosari pada abad XII.  Di masa modern seperti sekarang Model Pergantian Kekuasan dengan kekerasan dengan cara membunuh pimpinan yang sedang berkuasa bukanlah hal yang aneh yang mungkin masih bisa terjadi.
  
2. Legitimasi ‘Wahyu Keraton’ atau ‘Wahyu Kerajaan’
  
Dalam pewayangan cerita Mahabharata juga diceritakan bahwa agar seseorang bisa jadi raja atau pimpinan negara, dia harus mendapatkan ‘Wahyu Keraton / Wahyu Kerajaan’. Dalam lakon pewayangan ‘Wahyu Cakraningrat’ diceritakan bahwa siapa yang mendapatkan wahyu tersebut akan bisa menurunkan raja sampai dengan akhir zaman. Diceritakan bahwa ada tiga pemuda yang berambisi untuk mendapatkan wahyu tersebut, yaitu :

  • Lesmono Mondrokumoro/ Sarojo Kusumo (putera dari Duryudana – raja Hastinapura)  sebagai putera mahkota kerajaan Hastinapura.
  • Samba (putera dari Sri Kresna – raja Dwarawati) yang saat itu juga sebagai putra mahkota kerajaan Dwarawati.
  • Abimanyu (putera Arjuna – ksatria penengah Pandawa) yang saat itu bukanlah anak raja tapi adalah anak ksatria.

 

Di akhir cerita Abimanyu yang bisa mendapatkan ‘Wahyu Cakraningrat’ walaupun dia sendiri tidak menjadi raja karena gugur dalam peperangan ‘Bharatayuda’ namun kemudian anaknya Parikesit yang akhirnya menjadi raja di Hastinapura. Kenapa akhirnya ‘Wahyu Cakraningrat’ lebih senang berada pada ‘Abimanyu’ sekali lagi karena kualitas moral dari pemimpin ideal, yang dikehendaki adalah sifat-sifat dari Abimanyu yang saat itu adalah memiliki jiwa ksatria yang tahan dari ujian-ujian moral agar bisa mendapatkan Wahyu tersebut. Berbeda dengan sifat kedua putra mahkota Lesmono Mondrokumoro dan Samba yang arogan dan sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya.
  
Dalam pengertian agama Islam wahyu hanya diterima oleh Nabi Muhammad SAW. ketika satu demi satu ayat Al-Qur’an diturunkan dari Allah SWT kepada beliau. Pengertian Wahyu dalam hal ini adalah berbeda dengan Wahyu dalam pengertian Islam (biarpun mayoritas manusia Jawa adalah Islam). Wahyu Keraton oleh kalangan yang mempecayai adalah ‘cahaya cemerlang’ yang apabila masuk dalam tubuh seseorang, orang tersebut akan mempunyai ‘aura’ yang bersinar dan penuh pengaruh dan hanya dipunyai oleh seseorang yang dipastikan akan menjadi pemimpin atau raja.
  
Legitimasi ‘Wahyu Keraton’ adalah sekedar sifat-sifat ideal yang dicari agar seseorang bisa menjadi pimpinan atau raja dalam hal ini seperti sifat Wisnu pada legitimasi titisan Wisnu, sedangkan dalam cerita Wahyu Cakraningrat adalah sifat-sifat Abimanyu.

Bagi orang yang mendalami ‘ilmu kejawen’ barangkali ‘Wahyu Keraton’ secara harafiah memang ada dan semata-mata ini adalah kepercayan spiritual yang sulit untuk dicerna dengan akal.

Jika kita hubungkan dengan sekarang tidak usah heran bila ada yang meramalkan bahwa Wahyu Cakraningrat akan turun kepada seseorang – sehingga secara nyata masih kentalnya pengaruh wayang purwo dalam kehidupan manusia Jawa – yang akan menggantikan pimpinan saat ini yang oleh kalangan yang percaya bahwa Wahyu Keraton sudah tidak berada lagi didalam tubuh pimpinan/ raja saat ini dari tanda-tanda ‘aura’ yang terlihat pada saat penampilan didepan umum atau barangkali dikarenakan sifat-sifat angkara sudah meyelimutinya.
  
Apakah akan ada seseorang yang mendapatkan ‘Wahyu Keraton’ dan kemudian menggantikan pimpinan saat ini.
Mari sama-sama kita tunggu apakah betul-betul akan terjadi ?
  
3. Lengser Keprabon, Madeg Pandito
  
Model Pergantian Kekuasan secara damai ini hanya terjadi di dunia pewayangan dan sangat jarang terjadi dalam dunia nyata (tidak pernah terjadi didalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dimasa lalu).
sebagai contoh

·               Kresno Dwipoyono atau yang kemudian bernama Begawan Abyasa (dipercaya oleh sebagian orang sebagai pengarang buku Mahabharata) pada saat itu adalah raja Hastinapura yang menyerahkan kerajaan kepada anaknya Pandudewanata dan menjadi pendeta/resi yang hidup sampai pada masa Parikesit (cucu dari Arjuna – ksatria penengah dari Pandawa Lima).

 

·               Pandudewanata – ayah dari Pandawa Lima adalah raja Hastinapura pada saat itu, suatu saat mendapat kutukan dikarenakan salah membunuh dua rusa yang sedang kawin yang ternyata adalah pendeta suami istri yang sedang menyamar. Di situ dikisahkan bahwa Pandu akan menemui ajalnya pada saat pertama bersenggama dengan istrinya yang pada saat itu dia baru memperistri Dewi Madrim (Putri kerajaan Mandaraka). Kemudian Pandu menyerahkan kerajaan kepada kakaknya yang buta Destrarata dan Pandu membawa kedua istrinya Dewi Kunti dan Dewi Madrim ketengah hutan untuk menjadi pendeta.

 

·               Setelah Pandawa Lima memenangkan peperangan Bharatayuda, Puntadewa (Yudhistira) diangkat menjadi raja Hastinapura. Pada saat Parikesit sudah dewasa, Puntadewa dan adik-adiknya memutuskan untuk menyerahkan kekuasan kepada Parikesit dan Pandawa Lima pergi mengembara untuk mendalami spirituil sebagai pendeta.

 

Bagi seorang pimpinan tertinggi menyerahkan kekuasan kepada seseorang dengan damai dan ikhlas kepada penggantinya diperlukan kualitas sifat kepemimpinan seperti Kresno Dwipoyono, Pandudewanata maupun Puntadewa yang mempunyai sikat ‘intropeksi diri’ yang sangat mendalam terhadap kemampuan dirinya sendiri dan kepercayaan yang besar pada pihak yang akan menggantikan. Kita bisa menilai sendiri apakah pimpinan tertinggi Negara Indonesia saat ini punya sifat-sifat seperti
Kresno Dwipoyono (Begawan Abyasa), Pandudewanata, ataupun Puntadewa (Yudhistira). Kalau tidak ada itu berarti pernyataan ‘Lengser Keprabon, Madeg Pandito’ ini hanyalah ‘lip service’.

 

4. Kutukan Empu Gandring. 
  
Sumber cerita ini tak bisa kita pisahkan dari kehidupan Ken Arok. Menurut naskah Pararaton, Ken Arok adalah putra Dewa Brahma hasil berselingkuh dengan seorang wanita desa Pangkur bernama Ken Ndok. Oleh ibunya, bayi Ken Arok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.Ken Arok tumbuh menjadi pemuda yang gemar berjudi, sehingga membebani Lembong dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya. Ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi pula yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan. Ken Arok tidak betah hidup menjadi anak angkat Genukbuntu, istri tua Bango Samparan. Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng. Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya.

Selanjutnya diceritakan bahwa Ken Arok yang semula menjalani kehidupan sebagai perampok oleh penasehat spirituilnya dianjurkan untuk mengabdi kepada Tunggul Ametung yang adalah penguasa didaerah Tumapel (Jawa Timur). Berkat rekomendasi dari penasehat sprituilnya Ken Arok diterima sebagai abdi dan dengan cepat mendapatkan kepercayaan dari tuannya. Tunggul Ametung mempunyai istri bernama Ken Dedes. Ken Arok tertarik pada Ken Dedes dan timbul niatnya membunuh Tunggul Ametung agar bisa mengawini Ken Dedes (Dasar jiwa perampok). Untuk keperluan ini dia memesan keris kepada Empu Gandring yang saat itu sangat terkenal pembuat keris yang ampuh (berdasarkan budaya Jawa keris mempunyai kekuatan magis tertentu yang kepercayaan itu masih hidup sampai saat ini dikalangan masyarakat Jawa). Membuat keris yang ampuh adalah bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang Empu. Ken Arok sudah menanyakan berkali-kali kepada Empu Gandring kapan kerisnya akan jadi, yang selalu dijawab Empu Gandring belum jadi. Pada suatu saat habis kesabaran Ken Arok dan membunuh Empu Gandring menggunakan keris pesanannya yang dianggap belum selesai oleh sang Empu. Sebelum meninggal sang Empu mengutuk Ken Arok bahwa keris itu akan memakan korban tujuh turunan Ken Arok. Seperti diceritakan dalam sejarah akhirnya Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes dan memproklamirkan dirinya sebagai raja Singosari dengan gelar Rajasa dan menggangap dirinya titisan Wisnu. Dan berdasarkan legenda secara berturut-turut terjadi suksesi berdarah dalam perebutan kekuasaan diantara keturunan Ken Arok menggunakan keris Empu Gandring termasuk Ken Arok sendiri tewas karena tusukan keris Empu Gandring.
  
Model ‘Kutukan Empu Gandring’ ini adalah refleksi dari Model suksesi berdarah yang terjadi dalam merebut kekusaan dari pendahulunya dan banyak yang percaya bahwa ‘Kutukan Empu Gandring’ masih berjalan terus sampai saat ini yang pergantian kekuasan di Jawa/Indonesia akan selalu disertai dengan pertumpahan darah. Dan sejarah membuktikan bahwa pergantian kekuasaan pada masa kerajaan-kerajaan  Hindu maupun munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Suksesi selalu dilakukan dengan kekerasan berdarah. Hal ini terjadi apakah itu masa kerajaan Demak, Pajang , maupun Martaram dan situasi tersebut dimanfaatkan oleh Belanda melalui VOC nya yang pada saat itu untuk melebarkan teritory kekuasaan di Jawa dan seluruh Indonesia.
  
Dalam dua periode pergantian kekuasan pada abad ke 20, yaitu transisi dari penjajahan Belanda menuju ke Indonesia Merdeka, dan transisi dari Soekarno ke Soeharto, kedua-duanya adalah suksesi dengan pertumpahan darah yang sebetulnya adalah sangat kontras dengan sifat asli dari manusia Jawa/Indonesia yang katanya sangat lemah lembut  
sebuah pertanyaan besar bagi bangsa Indonesia adalah bisakah kita sebagai bangsa melepas dari kutukan ‘Empu Gandring’ dan melakukan suksesi dengan cara damai? Melihat kondisi saat ini dimana dominasi militer yang sangat kuat dalam birokrasi kekuasaan, potensi suksesi secara kekerasan sangat mungkin terjadi apabila militer disatu pihak membela mempertahankan kekuasaan yang ada dan dipihak lain memihak desakan kearah reformasi. Dan secara nyata kita sebagai bangsa tidak pernah belajar dari sejarah. 
   

5. Ngenger/Suwito.
  
‘Ngenger/ Suwito’ atau berarti mengabdi atau magang (dalam Bahasa Indonesianya) menyumbangkan Beberapa peristiwa bersejarah di Jawa khususnya. Ini menunjukkan bahwa dengan cara ‘Ngenger /Suwita’ salah satu jalan memudahkan seseorang untuk menuju ke puncak pimpinan atau pada kesempatan yang baik merebut kekusaan dari raja/pimpinan yang di ‘Ngengeri’ atau dimana dia mengabdi.
  
Contoh dalam kerajaan Jawa dimasa lalu :

  • Ken Arok sebelumnya ‘Ngenger’ kepada Tunggul Ametung sebelum kemudian membunuhnya dan merebut kekuasaan untuk dirinya sebagai raja Singosari.
  • Raden Wijaya ‘Ngenger’ kepada raja Kertanegara di Singosari bahkan diangkat sebagai menantu yang akhirnya menggulingkan mertuanya dengan bantuan tentara Kubilai Khan dari Cina untuk mendirikan kerajaan Majapahit.
  • Jaka Tingkir ‘Ngenger’ pada raja Demak dan menggulingkannya untuk mendirikan kerajaan Pajang dengan julukan Sultan Hadiwijaya.
  • Mas Karebet/ Danang Sutowijoyo ‘Ngenger’ pada Sultan Hadiwijaya dari Pajang dan menandinginya dengan mendirikan kerajaan Mataram di Kotagede dengan julukan Panembahan Senopati (Mas Ngabehi Loring Pasar).

 

Contoh dalam abad ke ke 20 sejarah Indonesiapun ada :

  • Soekarno ‘Ngenger’ pada Jepang sebelum memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia – meskipun dikatakan sebagai salah satu strategi perjuangan.
  • Soeharto juga pernah ‘Ngenger’ pada Soekarno dalam arti pernah bekerja sebagai salah satu panglima dibawah pimpinan Soekarno.

 

Kelebihan dari sistem ‘Ngenger’ ini adalah, dikarenakan dekat dengan kekuasaan mereka tahu isi perut dan titik lemah dari penguasa yang sedang berkuasa sehingga bisa membuat strategi yang tepat untuk menggulingkan biarpun dari segi moral tidak ‘etis’ – jika dikaitkan dengan ambisi kekuasaan apakah mereka peduli dengan kata-kata ‘etis’ ?
  
Soeharto adalah jagoan strategi dan punya penguasaan tentang budaya Jawa – sayangnya pengetahuan ‘kejawen’ yang dipunyai semata-mata ditujukan untuk melindungi dirinya sendiri dengan tujuan melanggengkan kekuasaannya bukannya untuk menanamkan kebajikan yang ikhlas seperti pada umumnya tujuan dari ilmu ‘kejawen’ – sehingga dalam memilih para abdi yang ‘Ngenger’ padanya sangat selektif dan hati-hati agar jangan sampai ada yang berani untuk merebut kekuasaan darinya. Seperti kata pepatah “sepandai-pandai tupai melompat bisa jatuh juga”, terbukti dengan bergulirnya gelombang reformasi oleh mahasiswa dan pada 21 Mei 2008, mundurnya Soeharto sebagai presiden saat itu semakin menambah carut-marut bagi Bangsa Indoneisia.


6. Bantuan Pihak Asing.
  
Model Pergantian Kekuasaan dengan menggunakan Bantuan Pihak Asing sebetulnya sungguh memalukan untuk diceritakan dikarenakan :

  • Sebagai bangsa dimasa lalu (mungkin juga dimasa kini) tidak mampu mengatasi masalah dengan kekuatan sendiri.
  • Campur tangan pihak asing memungkinkan sebagai bangsa kita dipecah-belah.kasus ini biasanya diminta oleh salah satu pihak yang bersengketa dan bantuan pihak asing tersebut dilakukan tidak dengan sukarela dengan kata lain minta imbalan tertentu.

Contoh yang paling tepat untuk Model ini adalah sejarah Mataram, dimana pada masa kejayaan Sultan Agung pada abad ke 16 kerajaan Mataram hampir menguasai seluruh tanah pulau Jawa, namun Dua abad kemudian karena masalah suksesi selalu saja salah satu pihak minta bantuan kepada Belanda dan pada puncaknya adalah Undang-undang mengenai Palihan Nagari (Giyanti) yang berisi kerajaan Mataram dipecah menjadi 2 kerajaan yakni Kasunanan di Surakarta dan Kasultanan di Yogyakarta. Jadi sebetulnya kerajaan Mataram bukanlah kerajaan yang bagus untuk membangun referensi, karena ulah raja-raja mereka menyebabkan bangsa Jawa lebih jauh terjerembab dalam penjajahan. Kerajaan Majapahit adalah yang lebih tepat untuk membangun referensi karena keberhasilannya menyatukan Nusantara pada masa kejayaan Gajah Mada (Lewat Sumpah Palapanya). Mungkin juga kita bisa mencari referensi yang lebih jauh dimasa sebelum era Majapahit yang ‘Jawadwipa’ sudah dikenal sebagai kerajaan yang ‘adil dan makmur’ dan tidak bekelebihan bahwa referensi wayang purwo /kulit’ masih relevan untuk digali untuk mencari negara ideal yang kita inginkan – kalau kita sebagai bangsa masih ingin lekat dengan masa lalu.
  
Model Bantuan Pihak Asing di masa modern sekarang benar atau tidaknya terjadi pada suksesi dari Soekarno ke masa Soeharto. Beberapa publikasi asing mengindikasikan bahwa ada campur tangan dinas intelegent Amerika dalam membantu Soeharto mengambil alih kekuasan dari Soekarno. Jikalau indikasi ini benar maka Model ini masih berlaku pada sejarah modern bangsa Indonesia.

 

Walaupun bangsa Indonesia dikatakan sudah ‘Merdeka’ apakah dalam kenyataan telah 100% merdeka ? ini disebabkan sistem tata politik dan ekonomi (terutama Ekonominya lewat IMF dan World Bank) saat ini sangat besar ketergantungannya pada pihak-pihak asing. Sebagai contoh kecil adalah dominasi ekonomi dalam negeri masih dilakukan kelompok keturunan bangsa Cina dan ketergantungan bangsa kita terhadap hutang yang sangat besar kepada negara Barat (terutama Amerika Serikat).

Pihak-pihak asing tersebut punya kepentingan untuk melakukan proteksi terhadap investasi yang sangat besar di Indonesia, apapun akan dilakukan oleh mereka untuk melindungi kepentingannya, termasuk bila diminta oleh salah satu pihak untuk melakukan suksesi dan tentunya dengan imbalan ataupun konsesi tertentu.
  


Kesimpulan.

 

Jika kita tilik kembali sejarah ke belakang, ternyata bangsa ini memerlukan seorang pemimpin yang betul-betul menghayati arti ‘kemerdekaan’ dalam pengertian yang seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga kenyataan yang ada jangan sampai hanyalah ‘kemerdekaan yang semu’ yang sebetulnya penjajahan masih berlaku dan hanyalah beralih muka yang tadinya dilakukan oleh Belanda sekarang dilaksanakan oleh para birokrat dibantu oleh kaum militer. tidak pernah terjadi suatu kemandirian/kemerdekaan ‘ekonomi’ bagi bangsa Indonesia asli karena ketergantungan yang sangat terhadap pihak asing dan tidak ada langkah-langkah yang pasti untuk mengatasi masalah ini.

Sebagai bangsa yang tidak bisa lepas dari ‘tradisi ketimuran’ yang selalu menoleh kebelakang ‘Model Pergantian Kekuasaan’ yang seperti dikemukakan diatas masih bisa terjadi dengan salah satu cara dari model diatas ataupun kombinasi diantaranya pada masa kekinian.
  
Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan kita sebagai bangsa, yaitu :

membiarkan ‘tradisi’ membelenggu kita dan peristiwa akan mengalir seperti roda pengulangan masa lalu yang akan terjadi tanpa kita pernah belajar darinya.

lupakan masa lalu dan mencoba menggunakan cara berpikir ‘budaya barat’ yang hanya melihat kedepan yang berati kita harus berani melakukan perombakan total cara berpikir (dan ini dilakukan secara sukses oleh bangsa Jepang/ restorasi Meiji).

 

demokrasi – sebagai suatu cara melakukan suksesi secara damai setiap lima tahun – adalah bukan tradisi budaya timur maupun budaya Jawa. Kalau ini menjadi pilihan berarti kita sebagai bangsa harus siap untuk melepaskan keterikatan kita dengan masa lalu dan tidak mencampur baurkan antara keduanya.
    
Dengan segala kekurangannya tulisan ini dimaksud untuk belajar dari tradisi dan sejarah – tanpa harus terikat dengannya – dan tidak mengulangi kesalahan yang sama dari pendahulu kita sehingga cita-cita kearah kebesaran bangsa Indonesia bisa lebih cepat terwujud.
  
Dari berbagai sumber    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: