Tapa mBisu – Mubeng Beteng

Jika menilik tradisi ini, kita akan teringat salah satu rukun haji, Tawaf. Mubeng beteng adalah tradisi asli Jawa yang berkembang pada abad ke-6 sebelum Mataram-Hindu. Bagaimana sebenarnya sejarah tradisi ini hingga bisa muncul. Dalam sejumlah catatan, mubeng beteng dilakukan pertama kali pada 1919. Saat itu daerah Kasultanan Ngayogyakarta diserang wabah influenza. Sehingga masyarakat meminta Keraton agar melakukan pengibaran bendera pusaka, yang bernama Kanjeng Kiai Tunggul Wulung, serta diarak keliling beteng. Masyarakat begitu percaya dikeluarkannya Kyai Tunggul Wulung dan berkeliling keliling beteng bisa menghilangkan wabah tersebut.
Kyai Tunggul Wulung  merupakan bendera segi empat, dengan latar belakang hitam keunguan bergaris tepi kuning, di tengah-tengah bendera terdapat gambar seperti burung elang bertuliskan rajah (huruf bermakna) dengan huruf Arab. Berikut ini rekaman penjelasan jalannya upacara pada masa lalu. Konon  merupakan bagian dari bungkus Ka’bah di Mekah. Pusaka ini diberikan dibawa oleh Iman  Safi’i utusan Sultan Hamengku Buwono I, pada 1784.

Kirab Kyai Tunggul Wulung ini kembali dilakukan pada 1932, 1946, dan 1951 untuk  mencegah menyebarnya penyakit pes.

Endah Susilantini dalam Jantra Vol. II, No. 3, Juni 2007 menyebutkan tradisi ritual mubeng beteng yang disertai kirab pusaka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dilaksanakan oleh keraton secara besar-besaran, dengan urut-urutan paling depan adalah pusaka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung diiringi satu bergodo  prajurit keraton yang telah ditunjuk untuk tugas tersebut, kemudian di belakangnya sebagian warga masyarakat  dari berbagai penjuru juga ikut ambil bagian mengikuti jalannya upacara kirab pusaka.

Bendera diletakkan pada tongkat yang ujungnya terdapat catursula diberi nama Kanjeng Kiai Santri. Kanjeng Kiai Tunggul Wulung yang dikirab berujud duplikat, adapun yang asli diletakkan di dalam peti dan ikut serta dikirab. Oleh karena telah berusia tua dan mudah robek, maka dibuatkan duplikatnya. Di sebelahnya juga terdapat sebuah pusaka yang ikut dikirab, berwarna hijau dan kuning yang disebut Pareanom.

Setelah peristiwa itu, selanjutnya tradisi ritual kirab pusaka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dilaksanakan sewindu (8 tahun) sekali, pada setiap Tahun Dal, bersamaan peringatan Maulud Nabi. Pada saat itu juga,pusaka-pusaka Kraton yang lain ikut di kirab, yaitu Kanjeng Kiai Ageng, Kanjeng Kiai Gadawadana, Kanjeng Kiai Gadatapan (semua berujud tombak) sedangkan pusaka pusaka yang berujud Bendhé, Wedhung, Cemethi, Ketipung juga dikirabkan pada Tahun Dal.

Dalam perkembangan selanjutnya ritual ini menggambarkan Refleksi Eksistensi diri manusia yang tercipta karena adanya sang pencipta ”Sangkan paraning dumadi” . Bentuk refleksi atas permulaan kemanusiaan itu diejawantahkan oleh masyarakat Yogyakarta dalam bentuk tradisi tapa bisu mubeng beteng yang dilaksanakan paa pertengahan malah 1 Suro. Mubeng beteng atau berjalan mengelilingi benteng Kraton adalah tradisi yang terbuka untuk masyarakat umum. Selama menjalankan lelaku tapa bisu mubeng beteng itu, tidak boleh berkata-kata serta dan berjalan kaki mengelilingi beteng sejauh kurang lebih empat km. Banyaknya putaran boleh hanya sekali atau lebih, asalkan dalam jumlah yang ganjil dengan tujuan mendengarkan suara hati juga nurani.

Laku mengelilingi tembok benteng Kraton dalam keheningan total itu merupakan simbol keprihatinan serta kesiapan masyarakat Yogyakarta khususnya penganut kejawen untuk menghadapi tahun yang akan datang. Diharapkan dengan sikap prihatin, mereka lebih mawas diri dan tidak berpuas diri terhadap segala sesuatu yang telah diraih pada tahun-tahun sebelumnya dan kedepannya mampu mengedalikan diri serta ”empan papan”.Pada mulanya, Tradisi mubeng atau memutar itu sebenarnya tidak hanya berada di seputaran benteng Kraton Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga terdapat tradisi mubeng kuthagara, dan mubeng manca negara karena sebagai pusat negara, Kraton dikelilingi oleh kutha negara dan kutha negara dikelilingi oleh manca negara. Manca negara yang dimaksud di sini adalah daerah-daerah di luar wilayah kesunanan dan kesultanan tetapi masih wilayah Kerajaan Yogyakarta. Karena tradisi mubeng beteng lebih mudah diikuti oleh masyarakat secara luas, maka tradisi itulah yang kemudian paling terkenal.

Dari berbagai Sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: